Senin, 09 September 2013

Semangkok Nasi




Semangkok Nasi

Di dalam sutra Buddha ada tertera bahwa ketika Buddha Sakyamuni berada di dunia, suatu ketika di India terjadi bencana kekeringan dan kelaparan, tidak ada bahan makanan, dan kondisi ini tentu saja menyulitkan para Bhikkhu yang melakukan pindapatta, maka itu seringkali mereka tidak memperoleh dana makanan dari para penderma, demikian pula halnya dengan Buddha Sakyamuni sendiri.

Suatu hari, Buddha keluar untuk berpindapatta, setelah berkeliling juga tidak memperoleh dana makanan, kebetulan ada seorang Bhikkhu yang juga dalam perjalanan pulang, melihat patta (mangkok makanan) Buddha yang kosong, segera bertanya apakah Buddha ada memperoleh dana makanan? Buddha menjawab: “Tidak ada, kalian para Bhikkhu saja tidak mendapatkan makanan, bagaimana mungkin Saya bisa memperolehnya?”. 

Mendengar ucapan ini, Bhikkhu merasa sangat bersedih hati, kemudian berpikir, Buddha memiliki berkah yang sungguh besar, guru pembimbing bagi para dewa dan manusia, mengapa tidak ada orang yang sudi memberi persembahan, menimbun berkah, ah, sungguh disayangkan. Namun bila dipikirkan kembali, saya sungguh beruntung, kesempatan ini ada di hadapanku, kini saya dapat memberi persembahan kepada Buddha, maka itu dengan cara apapun saya harus bisa memperoleh dana makanan untuk memberi persembahan kepada Buddha, tetapi semua Bhikkhu juga tidak berhasil memperoleh makanan, di mana saya harus mendapatkannya.

Maka itu dia jadi terpikir pada jubahnya, kemudian dia menjual jubahnya, pada jaman dahulu kain sangat berharga, maka itu uang hasil penjualan jubah dapat dibeli semangkok nasi, setelah memperoleh satu mangkok nasi, dia segera mempersembahkannya pada Buddha, Buddha yang maha tahu memberinya kesempatan,  namun sengaja bertanya pada Bhikkhu tersebut : “Oh Bhikkhu, dalam kondisi yang serba susah ini, dimana semua Bhikkhu tidak berhasil memperoleh persembahan makanan, semangkok nasi ini berasal dari mana?”

Bhikkhu menjawab : “Saya menukarnya dengan jubahku, untuk memberi persembahan kepada Buddha”. Setelah mendengar ucapan ini, dengan tegas Buddha memberitahukan Bhikkhu, “Saya tidak dapat menerima semangkok nasi ini, karena jubah Bhikkhu dikenakan oleh para Buddha, merupakan citra anggota Sangha, seluruh jasa kebajikan tiga mustika ada dalam citra ini, kini anda menggunakan jubah ini untuk ditukar dengan semangkok nasi, Saya tidak memiliki jasa kebajikan yang besar untuk menerima semangkok nasi ini”.

Bhikkhu menjadi sangat bersedih hati, berpikir Buddha saja tidak bisa menerima semangkok nasi ini, siapa lagi yang dapat menerimanya?

Kemudian Buddha bertanya lagi kepada Bhikkhu : “Apakah ayahbundamu masih hidup?” Bhikkhu menjawab :”Masih hidup”.  Buddha melanjutkan lagi : “Jika demikian bawalah semangkok nasi ini pulang ke rumah untuk dipersembahkan kepada ayahbundamu, ayahbundamu dapat menerimanya”.

Bhikkhu jadi tidak mengerti : “Buddha saja tidak bisa menerima semangkok nasi ini, bagaimana mungkin ayahbundaku dapat menerimanya?” Buddha menjawab : “Ini dikarenakan ayahbundamu yang melahirkan dirimu, maka itu dia dapat menerima persembahan darimu, semua milikmu berasal dari ayahbundamu, tentu saja semangkok nasi dari anda, juga memiliki jalinan hubungan dengan ayahbundamu, anda menggunakan tubuh jasmani yang diberikan ayahbundamu untuk digantikan dengan semangkok nasi, maka itu ayahbundamu dapat menerima persembahan semangkok nasi ini”.  

Kemudian Buddha bertanya lagi : “Apakah ayahbundamu memiliki keyakinan pada Ajaran Buddha?” Bhikkhu menjawab : “Tidak ada”. Buddha berkata lagi : “Kalau begitu bawalah semangkok nasi ini pulang ke rumah dan persembahkanlah kepada ayahbundamu kemudian berilah ceramah Dharma kepada mereka, ayahbundamu akan timbul keyakinan pada Buddha Dharma”.

Buddha berkata budi kebajikan ayahbunda tiada taranya, maka itu dengan jalinan jodoh ini memberikan persembahan kepada ayahbunda. Buddha tidak mengatakan agar nasi yang terbaik diberikan kepadaNya, atau berilah persembahan kepadaKu, namun mengajarkan para makhluk untuk menempatkan persembahan kepada ayahbunda sebagai yang terutama. Ini menjelaskan pada kita bahwa Buddha Dharma sangat menitikberatkan pada kehidupan keseharian, hal ini banyak orang yang telah salah paham, mengira bahwa Agama Buddha itu sangat pesimis dan jauh dari kehidupan keseharian.  

Petikan Ceramah Master Ren Shan
Judul : 48 Tekad Buddha Amitabha
Tahun : 2007




佛经上有个真实的记载,佛当年在世的时候,有一年印度干旱闹饥荒啊,没有粮食,大家没饭吃,当然嘛,比丘出去托钵,就比较困难,所以很多时候托空钵,托不到饭,佛呢,出去托钵也是的,他说共业啊,有一天佛出去托钵,走了一圈没托到,正好有一个比丘沿路回来,看到佛托个空钵就问佛,说世尊有没有吃饭吗?佛说没有,你们都托不到,我怎么能托到呢,比丘听到心里面非常难过,想想,佛是多大的福报,人天导师啊,可是竟然没有人来供养,修这个福报,哎呀,太可惜了。可是转念一想啊,我太幸运了,这个机会让我遇到了,我要来供养佛,于是就想我无论如何要去找来一钵饭去供佛,可是大家都托不到,到哪里去找,他就想把自己的袈裟,出家人的袈裟三衣啊卖掉,印度人的衣服现在还差不多是一块布,袈裟也是这样,过去布料很值钱,所以一块大的布料也能卖一点钱换一钵饭,得到这一钵饭之后,赶紧来供养佛,佛知道就是给他这个机会,但是故意问他,说比丘啊,这荒年大家都托不到饭,你这一钵饭从何而来啊?比丘说,我是用袈裟换的,我来供佛,佛听到之后,很严肃地告诉他,说这一钵饭我不能接受,佛说,袈裟出家人穿的这个25条衣三衣是三世诸佛正法的形象,用现在的话讲,这是佛教的标志,是僧团的唯一标志,一切诸佛出世都是穿它,这可以说是十方三世一切三宝的功德都在这个形象上,你现在用这个袈裟换来一钵饭,我没有这个大的功德,来接受你这一钵饭。比丘听到了就难过了,想一想佛都不接受这一钵饭,这个天底下还有谁能够接受?佛马上问他,说比丘啊,你父母还在世吗?还在,你现在把这一钵饭端回去供养父母,你的父母能够消受,比丘就不明白了,佛都不能消受,我的父母一个凡夫如何消受啊?佛说了,因为父母能生你身的缘故,所以他能消受你的供养,你的一切都来自于父母,当然你这一钵饭,也跟你父母是有关系的,你是用你父母给你的身体来换取这一钵饭,所以你的父母能够接受这一钵供养。然后又问他,你的父母对佛法有没有信心?说没有,佛说正好,把这一钵饭拿回去,赶紧供养父母,再为父母说法,你的父母就对佛法有信心了。佛说,父母的恩德无以伦比,以是因缘应当孝养父母。佛没有说你把最好的饭拿给我吃,你们都来供养我,没有,教导众生如何孝养父母摆在第一位,这说明什么呢?佛法非常重视现实的生活,这一点很多人误会了,以为佛法是消极的,是厌世的。

摘自