Selasa, 12 November 2013

Kisah Bhiksu Ju Xing 05



Kisah Bhiksu Ju Xing

Bagian 5


Setelah upacara pengambilan sila selesai, Master Xu Yun memberinya nama Dharma menjadi “Ju Xing”. Sejak itu dia dikenal sebagai Bhiksu Ju Xing! Setelah ditahbiskan, dia memakai jubah anggota Sangha, setiap hari melakukan pekerjaan berat, menanami sayur, mengairi ladang, memupuk, mengangkat tanah, membersihkan vihara dan pekerjaan lainnya yang dia lakukan sebelum ditahbiskan, setelah menjadi Bhiksu, dia tetap menfokuskan diri melafal Amituofo, juga tidak bicara dengan siapapun, sebagian orang memanggilnya dengan “Bhiksu Tuli”.


Dia melatih diri dengan keras sampai pada tahun 1915, dia semakin menutupi telinganya dan semakin berdiam diri, walaupun sedang menanami sayur atau bekerja, tiada waktu yang tidak digunakan untuk melafal Amituofo, siapapun yang memanggil dirinya juga tidak didengarnya.


Suatu hari Master Xu Yun berkata padanya : “Ju Xing, anda telah  melatih diri dengan keras selama empat tahun ini, kondisi batinmu juga sudah cukup lumayan, namun pengetahuanmu masih kurang, sekarang kamu seharusnya pergi belajar di luar! Anda seharusnya pergi mengunjungi  vihara-vihara di pegunungan tersohor, kelak bila kamu ingin kembali juga boleh, jika ada jalinan jodoh dengan tempat lain, juga boleh menetap mengikuti jodoh!”


Bhiksu Ju Xing bernamaskara sambil berlinangan air mata : “Guru! Murid tak sudi pergi!”


“Mengapa tidak mau pergi?”


“Murid tidak ingin meninggalkan dirimu!”


Hati Master Xu Yun seketika jadi terharu, namun beliau terpaksa meneruskan lakonannya dengan mimik muka penuh amarah, dan berteriak : “Pergi! Bukankah saya telah mengajarimu untuk melenyapkan kemelekatan? Apakah kamu sudah lupa? Cepat pergi! Saya tidak memerlukan perhatian dari murid seperti dirimu!”


Bhiksu Ju Xing tidak berani melawan, dengan berlinangan air mata dia merapikan kopernya. Ketika Master Xu Yun mengantarnya sampai di gerbang gunung, melihat keadaan Bhiksu muda ini yang tidak merelakan, sesungguhnya beliau juga turut bersedih hati. Tetapi dia tahu bahwa rahasia tidak boleh dibocorkan, daripada nanti muridnya menjadi sedih terperosok ke dalam kemelekatan kebodohan (moha), maka itu dengan sikap dingin Master Xu Yun berkata :”Pergilah! Bila berjodoh kita bersua lagi!”


Bhiksu Ju Xing meneladani Master Xu Yun yang pada masa mudanya juga berkelana menempuh perjalanan dengan cara “tiga langkah satu namaskara”, kini dia memulai perjalanan untuk mengunjungi gunung-gunung Buddhis yang tersohor!


Pada tahun 1920,  Master Xu Yun memulai pekerjaan perbaikan bangunan Vihara Yun Qi, Bhiksu Ju Xing tiba-tiba pulang kembali, bersujud di hadapan Master Xu Yun.


“Guru! Saya sudah pulang!


Master Xu Yun sangat gembira : “Anda sudah pulang ya? Bagus sekali! Selama belajar di luar, gunung tersohor mana yang telah kamu jelajahi? Mengapa kembali lagi?”


Bhiksu Ju Xing menjawab : “Seluruh gunung terkenal di dunia telah pernah saya jelajahi! Kabarnya guru sedang mengadakan perbaikan bangunan Vihara Hua Ting, saya tahu guru kekurangan tenaga kerja, maka itu saya segera pulang”.


Master Xu Yun berkata : “Kepulanganmu amat bagus! Apa yang hendak kamu lakukan setelah pulang kembali?”


Bhiksu Ju Xing menjawab : “Guru, saya amat bodoh dan tidak mengenal tulisan, apa yang dapat saya kerjakan? Hanya dapat menjaga guru, mengerjakan apa yang tidak sudi dikerjakan insan lain, yakni pekerjaan rendah, kasar dan berat!”


Master Xu Yun berkata : “Anda melatih diri dengan begitu disiplin, sungguh bagus! Kamu tinggallah di dua tempat yakni di Vihara Yun Qi dan Vihara Sheng Yin”. Kemudian bertanya lagi : “Sejak pulang, apakah anda telah mengunjungi keluargamu di Gunung Ji Zu?”


Bhiksu Ju Xing menjawab : “Tidak! Saya tidak ingin ke sana!”


“Mengapa?”


Bhiksu Ju Xing menjawab : “Sebagai seorang anggota Sangha, buat apa masih merindukan sanak keluarga?”


“Bertemu sejenak juga bukan masalah”.


Bhiksu Ju Xing menggelengkan kepala : “Tidak! Tidak!”


Sejak itu setiap harinya dia bolak-balik di antara dua vihara untuk menyelesaikan pekerjaannya, menggali tanah, memindahkan batu, membangun dinding, menanami sayuran, menanam pohon, membelah kayu, menumbuk padi, membajak sawah, memotong rumput, membersihkan vihara, memberi pupuk, mengairi sawah dan sebagainya, semuanya adalah pekerjaan yang paling berat dan melelahkan, namun tanpa diperintah, dia akan menyelesaikannya! Tiada waktu istirahat dan juga tiada satu detikpun tanpa melafal Amituofo di dalam hati! Sambil bekerja sambil melafal Amituofo, terkadang dia membantu menambal pakaian guru atau rekan-rekannya, juga satu tusukan jarum sepatah Amituofo.


Pada malam harinya dia akan membaca sutra, caranya adalah dengan bernamaskara pada setiap aksara yang ada di dalam sutra. Pagi harinya, ketika genta pagi bergema, dia selalu merupakan orang pertama yang hadir di dalam ruang kebaktian untuk mengikuti kebaktian pagi, kerajinan dan disiplin pelatihan dirinya, sungguh merupakan yang terunggul di dalam vihara! Dia tampak tuli dan bisu, sepatah katapun takkan muncul dari bibirnya.





  
具行禪人修行略傳

(五)

傳具足戒之後,虛雲賜他法名為「具行」。從此他成為具行和尚了!具行剃度改穿僧衣,每日自動操作各種勞役,種菜、施肥、挑糞、擔土、打掃...一如未傳戒之時,他專誠一心勤念阿彌陀佛與觀世音菩薩,也不和任何人講話,他耳患重聽,一般人都稱之為「聾子和尚」。

苦修到了民國四年,他越發的耳聾了,也越發的沈默了,他無論種菜或做工,無時都在心中念佛,誰喊他他也聽不見。

虛雲那天喚他來說:「具行!你苦修了四年,境界已不錯了,但是見識太少,你現在應該下山出外參學去!你應參拜天下名山道場,將來你願回來就回來,若另有好機緣,也可隨緣行止!」

具行泣拜:「師父!弟子不去!」

「為什麼不去?」

「弟子要一輩子服伺師父您老人家!」

虛雲心中一酸,可是裝起了怒容,叱道:「去!我怎麼教你無我破執?你忘了?快去!我用不著你服侍!」

具行不敢抗命,哭著收拾行裝,虛雲送他到山門之時,看這青年和尚的依依不捨的樣子,他心中也難過了。可是他知道絕不能流露出來,免得害了徒弟傷感落入痴執,於是虛雲只是淡淡地說:「你去吧!我們有緣再見!」

具行一笠一杖,正像虛雲當年一樣子,上路去朝拜各處名山去了!

民國九年,虛雲開始重建雲棲寺,具行和尚突然回來了,拜倒在虛雲老和尚面前。「師父!我回來了!」

虛雲驚喜得很:「你回來了?好極了!你這出去參學,遊了些什麼名山?怎麼又回來了呢?」

具行說:「天下各處名山都大略去過了,也不外如是!聽人說師父在此重修華亭寺,我知道師父缺人手,我就回來了。」虛雲說:「你回來甚好!你打算回來做什麼事呢?」

具行說:「師父,我又蠢又笨,又不識字,我能做什麼大事?總不外是侍候師父,兼做些人家做不來、不願做的笨重低下工役罷了!」

虛雲說:「你既如此發心苦修,很好!你就住在雲棲寺和勝因寺兩處罷!」又問:「這次回來,你去雞足山探視你家未?」具行說:「沒有!我不去了!」「為什麼?」

具行說:「大家都出了家修行,有什麼好眷戀的?」「見見也不妨!」具行搖頭:「不去!不去!」

他從此就在兩寺每日辛勤勞作,舉凡挖土、搬石、築牆、蓋房子、種菜、種樹、砍樹、取柴草、割禾打稻穀、犁田、除草、打掃、挑糞、施肥、炊事、劈柴……一切最勞苦的工作,他都自動勤作了!無一分鐘閒暇,亦無一刻不在心中念佛!一面幹活,一面念佛,有時候他替師父或同參補衣,也是一針一句佛號。到了晚上,他就念金剛經、藥師經、淨土諸經,一字一拜;早上,黎明大鐘響,他總是頭一個上殿參加課誦,他的精勤苦修,真是全寺第一!他卻是又聾,又像啞子,一句不開口。