Senin, 25 November 2013

Apakah Pekerjaan Boleh Dilepaskan? Bgn 1



Master Chin Kung Membahas :
Apa yang dimaksud dengan melepaskan segalanya dan menfokuskan pikiran melafal Amituofo? Apakah pekerjaan dan seluruh aktivitas kehidupan juga harus dilepaskan?

Bagian 1

Para praktisi sekalian, apa kabar semuanya! Beberapa hari ini kita berada bersama dengan para praktisi yang berasal dari Hongkong dan Tiongkok, saya melihat anda sekalian begitu serius melatih diri, ini membuat diriku menjadi sangat terhibur.

Permasalahan dalam melatih diri tentunya adalah halangan yang sulit terhindari, penyebabnya adalah kurangnya pemahaman terhadap teori, cara dan kondisi batin, sehingga munculnya keraguan tak terhindarkan. Kemarin ada seorang praktisi yang memberitahukan padaku, dia merasa bahwa bencana di dunia ini terlampau banyak, juga merasakan bahwa hidup di dunia ini tiada maknanya, sungguh pesimis; dia berkata padaku, “Saya telah melepaskan segalanya, kini saya menfokuskan pikiran melafal Amituofo, hanya berharap semoga saya segera terlahir ke Alam Sukhavati”. Tetapi dia juga menuturkan padaku, “Kini saya hanya memiliki beberapa puluh ribu dollar saja, jika uang ini habis dipakai, tidak tahu bagaimana dengan kehidupanku kelak?”

Saya dapat membayangkan dia ini adalah tipe orang yang bagaimana, yang serupa dengan pemikiran dan tindakannya, bukan hanya dia seorang saja. Niatnya ini memang bagus, tekadnya untuk terlahir ke Alam Sukhavati memang tidak salah, masalahnya apakah dia bisa berhasil terlahir atau tidak. Mengapa diragukan dia bisa terlahir atau tidak? Karena tindakannya telah salah, masalah terlahir ke Alam Sukhavati ini mana boleh tergesa-gesa? Jika terburu-buru ingin segera ke sana, ditinjau dari sudut prinsip memang boleh dibenarkan, namun tindakannya tidak benar. Anda masih mencemaskan bagaimana jika biaya hidup sudah habis digunakan, dan tidak ada sumber pendapatan, ini disebut mencari masalah sendiri!

Maka itu saya memberitahukan padanya, di dalam sutra, Buddha sering membabarkan pada kita bahwa segalanya harus menuruti apa adanya. Pekerjaan dan aktivitas keseharian harus dijalani, bukan hanya umat awam, bahkan anggota Sangha tak terkecuali, seperti kata pepatah kuno  “Sehari menjadi Bhiksu sehari memukul genta”. Setiap hari kita harus menunaikan kewajiban masing-masing, inilah yang disebut meneladani Buddha. Apa yang harus dilepaskan tidak dia lepaskan, sebaliknya apa yang tidak boleh dilepaskan malah dia lepaskan. Dia melepaskan pekerjaannya, ini adalah apa yang tidak boleh dilepaskannya; yang harus dilepaskannya, yakni kekhawatiran dan kecemasan yang ada di hatinya, inilah yang harus dilepaskannya.

Menempatkan Buddha Amitabha dan Alam Sukhavati di dalam hati, selain ini maka segala kekhawatiran dan kecemasan harus dilepaskan, ini barulah disebut dengan makna melepaskan yang sesungguhnya. Sedangkan dia telah salah paham, ini bukan meneladani Buddha, sampai keluarga juga terabaikan, pekerjaan tidak sudi dilakukan lagi, andaikata setiap insan   mempelajari Buddha Dharma dengan jalan sedemikian, maka Ajaran Buddha tidak bisa lagi bertahan di dunia ini. Mengapa demikian? Karena telah merusak tatanan kehidupan dunia ini. Di dalam sutra, Buddha sering membabarkan pada kita, “Buddha Dharma berada di dunia ini, tidak merusak tatanan kehidupan bermasyarakat”. Ajaran Buddha tidak hanya tidak merusak tatanan kehidupan dunia, bahkan Buddha Dharma dapat menyesuaikan diri dengan tatanan kehidupan masyarakat, maka itu Ajaran Buddha mendapat sambutan dari masyarakat luas, inilah alasannya.


Praktisi sekalian hendaknya dapat memahami, melepaskan adalah melepaskan kemelekatan di hati, bukan melepaskan apa yang ada dalam kehidupan nyata. Jika di hati telah mampu melepaskan, di dalam kehidupan nyata takkan ada rintangan lagi, inilah yang disebut “dalam segala hal bebas tanpa rintangan”. Andaikata di dalam kehidupan nyata harus melepaskan, maka Buddha Sakyamuni tentunya juga seharusnya melepaskan, buat apa selama 49 tahun membabarkan Dharma? Cobalah pikirkan, Buddha dan Bodhisattva memperlihatkan pada kita, demikian juga para guru sesepuh juga sedang memberi teladan, dari sudut ini kita harus memahami tidak boleh menyalahartikan maksud dari Buddha, tidak boleh salah dalam menjelaskan makna yang sesungguhnya dari Dharma Buddha.